Tentang Cinta

November 24th, 2007 by haniefadrian

Tentang perjalanan cinta gua? Hehehe, gua lagi ga mencoba untuk sok-sokan romantis atau lagi mellow. Yah, gua cuma lagi butuh nulis soal apa pandangan gua soal cinta untuk perempuan. (Cinta memang mengalami reduksi makna menjadi cinta untuk lain jenis saja di dalam budaya populer)

Gua memandang perempuan sebagai makhluk yang aneh. Kenapa? Karena emang makhluk yang satu ini banyak maunya. Ga percaya? Walaupun gua ga pernah pacaran (pernah nyoba ngedeketin jaman SMA, gagal! Huahahaha), tapi hubungan pertemanan gua dengan beberapa perempuan membuktikan hal tersebut.

Contoh, perempuan itu ga suka ada yang lelaki playboy. Tapi kelakuan mereka malah senang buat dikecengin, diliatin, diperhatiin. Kayaknya naik gitu mutunya kalo banyak yang ngecengin dan ngejar-ngejar dia. Hmmmh, aneh!

Yang pasti, dengan keanehan perempuan, gua tetap memilih buat memiliki istri. Kenapa? Ini bukan soal mematuhi Sunnah Nabi atau apapun. Tapi lebih ke emang gua butuh temen dari lain jenis yang bisa jadi temen ngobrol, berbagi suka dan duka (bisa lebih baik daripada sama lelaki [gua bukan homo!!!!]), dan nilai plusnya adalah, punya anak!

Gua memahami cinta dengan perempuan ini dengan perkawinan. Ya gua cuma meyakini cuma ada dua jenis hubungan dengan perempuan, teman atau istri. Biner banget emang, tapi entah kenapa, justru bagi gua pacaran itu mempermainkan hubungan suci antara lelaki dan perempuan. Entah kenapa gitu, tiap gua mulai ngerasa ada rasa yang ga penting keluar dari lubuk hati terdalam, gua lebih milih buat ngejauhin orang itu. Niat gua kalo bukan buat jadi istri, ya temen aja!

Teman hidup seperti apa sih yang gua inginkan? Pertama, seiman! Ya iyalah, ini penting dan ga perlu gua jelasin. Kedua, mau hidup susah. Mungkin gua ingin memulai hidup dari nol koma. Oleh karena itu gua ga begitu tertarik ngedeketin perempuan dari kelas atas, kecuali keliatan kalo dia senang dengan kesederhanaan.

Ketiga, ga centil! Manja dikit boleh lah, kan senang gua terhibur. Tapi, gua pengen yang dewasa dan sabar. Apalagi gua ini orangnya pemarah, emosional, kalo kata Dani sang Menko Eksternal, pundungan. Keempat, bisa diajak diskusi soal yang gua suka, sosial politik ekonomi budaya sejarah filsafat sains teknologi seni. Siap ngalor ngidul, ga bloon.

Kelima, ini yang penting! Ga gampang nerima pendapat gua, berani ngritik gua. Wah, jujur aja, gua gampang jatuh hati kalo ngeliat seorang gadis yang kritis, pokoknya ada aura tertentu yang menjadikan gua, gimana gitu. Keenam, enak diliat, manis, ga cantik pokoknya lah. Ga bikin lelaki pengen ngeliatin dia, bisa cemburu gua. Seringkali kalo kriteria kelima kriteria di atas terpenuhi, seringkali orang kayak gini jadi cantik bagi gua.

Jadi, kalo ada gadis yang ngebaca tulisan ini yang merasa cocok dengan tulisan gua di atas, siap-siap tak kejar! Ga gitu-gitu amat sih, gua lebih seneng lelaki yang ngedeketin daripada perempuan.

Lagu Indonesia Raya Yang Asli??

August 5th, 2007 by haniefadrian

Hari-hari terakhir ini di TV lagi rame (ga rame-rame amat sih) pemberitaan soal ditemukannya vidoe rekaman Versi Asli Lagi Indonesia Raya oleh Roy Suryo, pengamat telematika yang beken itu. Katanya dia itu rekaman dibuat September 1944. Nemunya sih di Belanda (standar, banyak artefak milik bangsa ini yang dipelihara sama Kumpeni). Belum ada sikap resmi dari Pemerintah RI soal rekaman ini.
Kalo ngeliat rekaman itu, panjang banget coy, ampe 3 kuplet (istilah musiknya verse, bridge, dan reffrain). Coba dinyanyiin sama anak SD, bisa cape ngehormat bendera sampe 3 menit lebih. Ngehormat bendera sambil nyanyi Lagu Indonesia Raya yang sekarang aja lumayan pegel. Walaupun gw eks paskib, akhir-akhir ini bagi gw ga penting menghormati bendera. Lagian, bukan masalah logis-ga logis, capek hehehehe.
Bagaimanapun gw salut sama WR Supratman sang pencipta lagu. Dia bener-bener menciptakan lagu kebangsaan yang beraura semangat. Jos Cleber aja, yang bikin rekaman resmi lagu ini, memberikan tempo Maestoso con Bravura, artinya agung tetapi berani. Tempo lagu lain kan Presto, Allegro, Moderato, Adante, Largo. Khusus tuh. Lagu ini juga salahsatu lagu kebangsaan terpanjang di dunia, 105 detik man! Bandingin sama lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo yang cuma 4 baris.
Momen pertama lagu ini dinyanyikan juag oke banget, pas penetapan keputusan Kongres Pemuda II di Jakarta 27-28 Oktober 1928. Bisa dibayangkan (sedikit bluffing nih) betapa kagumnya para peserta Kongres Pemuda ketika mendengarkan lagu itu.
Salut dengan karya WR Supratman…
Salut dengan karya peserta Kongres Pemuda, tiga frase abadi kita…
    Satoe Noesa
        Satoe Bangsa
            Satoe Bahasa
Salut dengan inovasi dengan keadaan dan sarana terbatas sekali…
Salut dengan kreatifitas

Intinya mah, gw ingin sekali meneladani mereka dalam berprestasi
Anak muda yang berkarya

Mau Cerita Apa Yah!

March 17th, 2007 by haniefadrian

Cerita apa nih, cerita pribadi deh! Daripada blog ini ga pernah keisi.

Saya lahir tanggal 20 Juli 1985 di Jakarta, sempet tinggal di Jalan Abdul Jalil no. 8, Karet Tengsin, Jakpus, deket jalan Jenderal Sudirman. Jadi tiap pagi saya dan keluarga jalan-jalan ke Jl. Sudirman. Asik kan! Berhubung pengen nyari tempat tinggal di pinggir kota, tahun 1988 ayah dan ibu saya pindah ke Ciledug, trus tahun 1990 ampe sekarang tinggal di BSD tercinta. Mulai dari itu kota cuma tanah lapang di mana-mana, sampe rame seperti sekarang.

Latar belakang keluarga? Ayah saya lahir di Sukabumi. Ayahnya alias kakek saya orang Cirebon, nenek dari ayah orang Kebumen. Ibu lahir di Serang. Kakek dari jalur ibu orang Palembang, nenek dari jalur ibu orang Banten. Rame kan, intinya mah saya orang Indonesia asli.

TK dan SD ga terlalu banyak punya kenangan, paling sering nangis (hahaha, cowok kok nangis). SMP-SMA masuk ‘penjara suci’ alias asrama. Biar bete, tapi kenangannya ga terlupakan bo! Bayangin aja, dari mulai cerita sampah sampe horor saya masih inget. Palagi pas SMA, jatuh cinta pertama kali, nyuci baju sendiri, banjir tahun 2002, jadi pengurus OSIS, dll., menjadikan saya mau mencoba memahami arti hidup.

Saya sendiri sempat terpukul ketika saya mengetahui kalo Ayah saya mengidap kanker prostat tahun 2000 dan meninggal dunia tahun 2002. Sebagai anak pertama, trus sekarang kuliah di ITB lagi, saya punya beban berat untuk mencukupi kebutuhan hidup ibu dan adik-adik saya (bukan cuma biaya aja). Makanya nih, di kampus lagi aktif di kemahasiswaan, lumayan kan, dapet CV plus pengalaman yang amat sangat berharga.

Udah ah, segitu dulu ceritanya. To be continued.

Pagi

December 9th, 2006 by haniefadrian

Dari balik jendela di kamarku
Menyelinap seberkas cahaya
Hingga ku terjaga segera
Dari tidurku malam itu
Dan mimpi yang mesra

Ketika daku membuka jendela
Sinar mentari menyambut pagi

Burung-burung pun memberikan salam
Dalam kesejukan dan indahnya pagi
Seandainya suasana pagi
‘kan sepanjang hari Betapa bahagia
Tanpa terasa siang kan menjelang
Hari pun berganti aku pun berlalu

Sejarah Telah Mengajarkan Kita!

July 27th, 2006 by haniefadrian

Sejarah telah mengajarkan kita

Bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah

Bahwa sejarah manusia lebih sering berwarna merah

Bahwa sejarah, adalah cerita tentang pertumpahan darah

Sejarah telah mengajarkan kita

Tentang bedanya pemimpin dengan penguasa

Tentang bedanya pemberani dan pengecut

Tentang bedanya pemenang dan pecundang

Sejarah telah mengajarkan kepada kita

Bahwa manusia lebih sering tergoda menjadi penguasa

Daripada memenuhi fitrahnya sebagai manusia

Sejarah, sejarah!

Sayangnya kita tidak bisa lepas dari sejarah

Kecuali jika kita berpisah dari sejarah

Alias

MATI!

Matinya Nasionalisme!

July 11th, 2006 by haniefadrian

Gw pernah baca satu artikel menarik di Kompas mengenai campur aduknya bahasa kita. Yah, ada bahasa inggrisnyalah, Belandalah, Latinlah, dll. Si penulis mempertanyakan bagaimana keinginan bangsa ini mempertahankan budaya nasional. Bahkan Assalamualaikum adalah berlawanan dengan budaya kita.

So, what gitu lho! Mas penulis, budaya Indonesia emang ga ada yang orisinil, sok lah dicari sumbernya. Bangsa kita ini imigran dari Cina Selatan yang bersatu dengan bangsa Polynesia Negro dari Pasifik. Bahasa kita dipengaruhi kebudayaan Arab, Hindustan, Eropa, dan Cina. Nama Indonesia dikasih sama Adolf Bastian yang orang Jerman, dan Indonesia itu bahasa latin.

Gw juga jadi inget tulisan Gunawan Muhammad yang mengatakan kalo Islam itu budaya Arab, lah, namamu itu bahasa Indonesia gitu.

Emang nasionalisme udah mati!