Nyanyi Lagi

April 16th, 2008 by haniefadrian

Kalo pas masih SD kayak pernah lagu ini, reggae 90’s coy, gara-gara si Saska ama Aul, gw tergila-gila 90’s, gara-gara Mama, gw jadi suka 70’s, gara-gara Ayu, gw jadi suka 80’s, gara-gara Zamzam n Radix, jadi suka 60’s, tak betol!

Udah jangan banyak bacot dah, push the button, please!

Big Mountain - Baby I Love Your Way

Ooh baby I love your way every
day
Ooh baby I love your way every
day

Shadows grow so long before my eyes
And they’re moving across the
page
Suddenly the day turns into night
Far away from the city
But don’t
hesitate ‘Cause your love just won’t wait hey

Ooh baby I love your way
every day
I Wanna tell you I love your way every day
I Wanna be with you night
and day

Moon appears to shine and light the sky
With the help of some
fireflies
I wonder how they have the power shine shine shine
I can see
them under the pines
But don’t hesitate ’cause your love just won’t wait
hey

Ooh baby I love your way every day
I Wanna tell you I love your way
every day
I Wanna be with you night and day uh yeah

I can see the sunset in your eyes
Brown and
grey and blue besides
Clouds are stalking islands in the sun
Wish I could
dry one out of season
But don’t hesitate ’cause your love just won’t wait
hey

Ooh baby I love your way every day
I Wanna tell you I love your way
uuhh
I Wanna be with you night and day

Ooh baby I love your way every
day
I Wanna tell you I love your way uuhh
I Wanna be with you night and day

Lalu Berikutnya…

March 25th, 2008 by haniefadrian

Sengaja saya kasih judul begitu, sama sekali ga sesuai sama gramatika, tapi what the hell…Lalu berikutnya, setelah itu apa? (pleonasme) Tiga tahun sudah saya berkecimpung di kemahasiswaan, dengan segala suka-dukanya, arogansinya, pembelajarannya, dan aksi-aksinya, saya cuma bilang:

Terimakasih kepada semua yang sudah memberi pembelajaran ke saya!

Tetapi…

Ternyata saya belum menghasilkan apa-apa…

Biasanya sih, pembenarannya adalah, kan mahasiswa baru belajar, BULLSHIT! Bung, sekarang ini era kebebasan informasi, akses pengetahuan terbuka lebar, sangat mungkin bagi kita untuk berbuat sesuatu yang nyata di tengah segala tekanan yang terkadang dibuat-buat oleh kita sendiri, entah berupa (sok) kesibukan menjalankan proses pewacanaan di kampus, godaan, maupun kemalasan yang sebenarnya seringkali dibuat oleh saya sendiri.

Mungkin ada yang tersinggung ketika membaca hal ini, tetapi saya tekankan lagi, para pemimpin mahasiswa jaman sekarang, di berbagai level, seringkali sok sibuk! Ada proker inilah, anak-anaknya lagi ujianlah, ada masalah pribadilah, ada masalah pacarnyalah, dan segala alasan lainnya. Tapi setelah dicross-check, ternyata seringkali hal-hal tersebut, bisa diselesaikan dengan cepat oleh si Pemimpin Mahasiswa tersebut, tentunya dengan keseriusan juga.

Oleh karena itu, bagi siapapun yang membaca ini, jangan pernah menyalahkan segala isme-isme anak muda jaman sekarang (apatisme, hedonisme, pragmatisme, dll.) Semua itu terjadi karena si pemimpin mahasiswa juga berkelakuan seperti itu, apatis, hedon, pragmatis, dan is-is lainnya. Nah, bingung kan…

Coba, ajak para pemimpin mahasiswa sekarang untuk benar-benar mengkaji persoalan kemahasiswaan jaman sekarang, mana ada yang benar-benar menganalisa kondisi dengan pisau analisa yang dapat dipertanggungjawabkan. Atau mau berpolitik mahasiswa, mana ada yang benar-benar melakukan analisa kondisi yang dapat dipertanggungjawabkan?

Di era seperti ini, para pemimpin mahasiswa masih memakai kacamata kuda untuk melihat kondisi lingkungannya, baik rakyat kampusnya, maupun rakyat di luar kampus. Dengan kelakuan pemimpin seperti itu, tentu saja si mahasiswa memakai pola pikir yang sama, hehehe…

Tapi kok jadi ga nyambung, tulisan ini kan bukan buat melabrak para pemimpin mahasiswa, ik kena donk…

Jadi kehidupan saya berikutnya apa ya??? Bingung, hmmh, kemahasiswaan itu memang surga, begitu kata Staf Danlap OSKM 2003, anak HIMAFI’01. Kalo udah masa-masa kehilangan orientasi kayak gini, udah susah tuh…

My Self-Actualization

March 1st, 2008 by haniefadrian

Puas?!?

Enggak juga, saya bukan orang yang mudah puas, saya bukan orang suka pujian, tapi juga tidak mengharapkan hinaan.

Tapi saya punya kebanggaan, saya sudah bisa membentuk komunitas, soal berlanjut atau tidak, itu urusan lain. Saya besar di gerakan, lebih diajarkan membuat trigger, bukan menjadi sustained.

Inkonsistensi dan disintegritas masih menjadi penyakit saya. Oleh karena itu, mohon ingatkan saya terus!

Pemberontakan saya berhasil di awal, entah di akhir!

The Internationale

February 27th, 2008 by haniefadrian
French lyrics Literal English translation
First stanza

Debout, les damnés de la terre
Debout, les forçats de la faim
La raison tonne en son cratère
C’est l’éruption de la fin
Du passé faisons table rase
Foules, esclaves, debout, debout
Le monde va changer de base
Nous ne sommes rien, soyons tout
|: C’est la lutte finale
  Groupons-nous, et demain
  L’Internationale
  Sera le genre humain :|

Stand up, wretched of the earth
Stand up, galley slaves of hunger
Reason thunders in its volcano
This is the eruption of the end
Of the past let us wipe the slate clean
Masses, slaves, arise, arise
The world is about to change its foundation
We are nothing, let us be all
|: This is the final struggle
  Let us gather together, and tomorrow
  The Internationale
  Will be the human race :|

Second stanza

Il n’est pas de sauveurs suprêmes
Ni Dieu, ni César, ni tribun
Producteurs, sauvons-nous nous-mêmes
Décrétons le salut commun
Pour que le voleur rende gorge
Pour tirer l’esprit du cachot
Soufflons nous-mêmes notre forge
Battons le fer quand il est chaud
|: C’est la lutte finale
  Groupons-nous, et demain
  L’Internationale
  Sera le genre humain :|

There are no supreme saviours
Neither God, nor Caesar, nor tribune.
Producers, let us save ourselves
Decree the common welfare
That the thief return his plunder,
That the spirit be pulled from its prison
Let us fan the forge ourselves
Strike the iron while it is hot
|: This is the final struggle
  Let us stand together, and tomorrow
  The Internationale
  Will be the human race :|

Third stanza

L’état comprime et la loi triche
L’impôt saigne le malheureux
Nul devoir ne s’impose au riche
Le droit du pauvre est un mot creux
C’est assez, languir en tutelle
L’égalité veut d’autres lois
Pas de droits sans devoirs dit-elle
Egaux, pas de devoirs sans droits
|: C’est la lutte finale
  Groupons-nous, et demain
  L’Internationale
  Sera le genre humain :|

The state represses and the law cheats
The tax bleeds the unfortunate
No duty is imposed on the rich
‘Rights of the poor’ is a hollow phrase
Enough languishing in custody
Equality wants other laws:
No rights without obligations, it says,
And as well, no obligations without rights
|: This is the final struggle
  Let us stand together, and tomorrow
  The Internationale
  Will be the human race :|

Fourth stanza

Hideux dans leur apothéose
Les rois de la mine et du rail
Ont-ils jamais fait autre chose
Que dévaliser le travail
Dans les coffres-forts de la bande
Ce qu’il a créé s’est fondu
En décrétant qu’on le lui rende
Le peuple ne veut que son dû.
|: C’est la lutte finale
  Groupons-nous, et demain
  L’Internationale
  Sera le genre humain :|

Hideous in their self-glorification
Kings of the mine and rail
Have they ever done anything other
Than steal work?
Into the coffers of that lot,
What work creates has melted
In demanding that they give it back
The people wants only its due.
|: This is the final struggle
  Let us stand together, and tomorrow
  The Internationale
  Will be the human race :|

Fifth stanza

Les rois nous saoulaient de fumées
Paix entre nous, guerre aux tyrans
Appliquons la grève aux armées
Crosse en l’air, et rompons les rangs
S’ils s’obstinent, ces cannibales
A faire de nous des héros
Ils sauront bientôt que nos balles
Sont pour nos propres généraux
|: C’est la lutte finale
  Groupons-nous, et demain
  L’Internationale
  Sera le genre humain :|

The kings make us drunk with their fumes,
Peace among ourselves, war to the tyrants!
Let the armies go on strike,
Guns in the air, and break ranks
If these cannibals insist
On making heroes of us,
Soon they will know our bullets
Are for our own generals
|: This is the final struggle
  Let us stand together, and tomorrow
  The Internationale
  Will be the human race :|

Sixth stanza

Ouvriers, paysans, nous sommes
Le grand parti des travailleurs
La terre n’appartient qu’aux hommes
L’oisif ira loger ailleurs
Combien, de nos chairs se repaissent
Mais si les corbeaux, les vautours
Un de ces matins disparaissent
Le soleil brillera toujours.
|: C’est la lutte finale
  Groupons-nous, et demain
  L’Internationale
  Sera le genre humain :|

Labourers, peasants, we are
The great party of workers
The earth belongs only to men
The idle will go reside elsewhere
How much of our flesh they feed on,
But if the ravens and vultures
Disappear one of these days
The sun will still shine
|: This is the final struggle
  Let us stand together, and tomorrow
  The Internationale
  Will be the human race :|

Subuh Berdarah

February 17th, 2008 by haniefadrian

Tidak
Kalian semua tidak akan pernah
Bisa meredam
Pemberontakan
Dari diriku

Jika
Kalian pikir
Sudut pandang kalian
Adalah yang paling benar
Kutantang kalian
Untuk membuktikan
Kebenaran itu

Aku
Tidak peduli
Hijau atau merah
Hitam atau putih
Elit atau rakyat jelata
Anak gaul atau soleh
Kalian dan aku adalah manusia lemah

Kebenaran
Cuma ada di langit
Dan bumi ini
Cuma berisi kepalsuan
Aku, kau, kalian, kita, mereka
Adalah kedustaan

Elit-elit berpolitik
Orang-orang kaya berbisnis
Mahasiswa bersuara
Dosen mengajar
Rakyat bekerja

Semua palsu, palsu!
Semua meracau!

Dan kalian
Cuma tidur
Lelap
Ketika bangun
Langsung terhenyak
Melihat kehidupan
Penuh dengan ketidakpastian
Entah sebuah kebenaran
Atau kedustaan

Subuh berdarah
Adalah sesuatu yang menyambut kita
Tiap pagi
Tiap hari

Karena
Saat itulah
Kematian manusia
Dituliskan
Atas dasar
Kemunafikan

Dan aku
Akan tetap
Berontak

Repleksi Diri (Duh, Beraaaat!)

February 13th, 2008 by haniefadrian

Hari ini tanggal 14 Februari, masa kerja Kabinet tinggal 1 Bulan 3 Minggu udah mau selesai. Ya, emang bener kata Bang Syarief Tando, musuh mahasiswa bukan penguasa atau kapitalis, tapi waktu. Kayaknya 12 bulan bukan waktu yang cukup. Coba gw inget2 12 bulan gw ngapain aja:
- April: nyusun-nyusun divisi Hublu, lobi sana-sini buat dapetin jaringan lama
- Mei: Pelantikan Kabinet, Muker, Eksis terus dah
- Juni: mulai jalan-jalan keliling Jakarta-Bandung
- Juli: jalan-jalan ke Jogja, sakit flu, mulai (sok) sibuk PMB
- Agustus: semua stafku tercinta ikutan PMB, gw sendirian, tapi yasudahlah
- September: calm down, persiapan muker kedua, ga kemana-mana, nah yang ini gw baru nyesel
- Oktober: ke rumah Bang Jusman, bubar bareng alumni ITB
- November: Temu BEM Se-Indonesia, Jawa Barat, mulai ribut kecil-kecilan
- Desember: (sok-sokan) bikin Platform, PSB, Temu BEM SI, balik ke rumah
- Januari: huh, ini yang bikin gw kesel ama diri gw sendiri, Dies KM gagal!

Dengan berbagai jaringan yang gw bentuk, cuap-cuap tiap malem di Nyawang, marah-dimarahin Kabinet, tulisan yang gw bikin tiap tengah malem (emang munculnya jam segitu), dapet kenalan banyak, ternyata gw dapet satu hal.

Waktu cuma limitasi, dia bukan musuh. Musuh gw adalah inkonsistensi dan disintegritas. Ya, gw ga konsisten, terbukti banyak yang udah direncanain tapi ga dijalanin. Oleh karena itu akhir2 ini gw lebih berpikir kita punya apa lalu mau buat apa, bukan kita mau buat apa baru mikir apa yang kita punya.

Yang kedua integritas. Yah, gw emang udah nemuin bakat gw nulis, tapi ITU SAMA SEKALI GA BIKIN RAKYAT MAKAN KENYANG. Sementara harga naik, gw malah sok-sokan mengkonsep gerakan mahasiswa yang sbenarnya ga perlu dikonsep muluk-muluk amat. Yang penting jelas, mendasar, intelektual, bukan titipan, dan mudah direalisasikan. Toh tugas gw belajar.

Dan semua itu coba dikejar akhir-akhir ini, mmh, kita lihat dampak dari gerakan ini. Gw pikir, nunggu semua anak ITB sadar, ya kagak bakal gerak-gerak atuh!

Atau gw butuh memberontak!

Lagi ingin Mellow

January 15th, 2008 by haniefadrian

Ini dua lagu The Beatles yang paling gua suka…

-Don’t Let Me Down-

Don’t let me down, don’t let me down.

Don’t let me down, don’t let me down.

Nobody ever loved me like she does,

Oo, she does, yeh, she does.

And if somebody loved me like she do me,

Oo, she do me, yes, she does.

Don’t let me down, don’t let me down.

Don’t let me down, don’t let me down.

I’m in love for the first time.

Don’t you know it’s gonna last.
It’s a love that lasts forever,

It’s a love that had no past.

Don’t let me down, don’t let me down.

Don’t let me down, don’t let me down.

And from the first time that she really done me,

Oo, she done me, she done me good.
I guess nobody ever really done me,

Oo, she done me, she done me good.

Don’t let me down, don’t let me down.

Don’t let me down, don’t let me down.

-Across The Universe-

Words are flowing out like endless rain into a paper cup,

They slither while they pass, they slip away across the universe

Pools of sorrow, waves of joy are drifting through my open mind,

Possessing and caressing me.

Jai guru deva om

Nothing’s gonna change my world,

Nothing’s gonna change my world.

Images of broken light which dance before me like a million eyes,

That call me on and on across the universe,

Thoughts meander like a restless wind inside a letter box
They tumble blindly as they make their way

Across the universe

Jai guru deva om

Nothing’s gonna change my world,

Nothing’s gonna change my world.

Sounds of laughter shades of earth are ringing

Through my open ears inviting and inciting me

Limitless undying love which shines around me like a million suns,
It calls me on and on

Across the universe

Jai guru deva om

Nothing’s gonna change my world,

Nothing’s gonna change my world.

Sadar!

January 3rd, 2008 by haniefadrian

Saya sadar, saya memang tidak bisa menyenangkan semua orang
Tapi saya harus berusaha menyenangkan semua orang.

Saya sadar, saya sangat merindukannya
Tetapi merindukannya bukan sekedar dengan air mata

Saya sadar, saya suatu saat menjadi pemimpin
Oleh karena itu, saya harus bisa dipimpin

Saya sadar, saya sering tidak puas dengan orang yang saya pimpin
Tetapi saya puaskan mereka dulu supaya mereka memuaskan saya

Saya sadar, saya punya banyak teman
Tetapi maafkan saya jika saya melupakan pertemanan

Saya sadar, saya juga punya musuh
Saya tidak mencari kamu, tapi kalau saya bertemu kamu, pantang bagi saya mengelak

Saya sadar, saya butuh dicintai dengan tulus
Tapi percuma kalau saya tidak pernah mencintai dengan tulus juga

Saya sadar, saya punya hak yang mau saya perjuangkan
Tapi saya juga kewajiban untuk dijalankan

Saya sadar, saya terlalu sering berputar-putar dalam berpikir
Oleh karena itu, amalkanlah pemikiran dalam tindakan nyata

Berpikir, Bersikap, Bertindak!
Sed Magis Amica Veritas!

Buat:
Ayah (alm.) dan Ibu
Adik-adik
Keluarga besar Ayah dan Ibu
Schopferisch, Vaterfouzz, Plano’03
Kabinet KM ITB 05/06, 06/07, 07/08
Sospol, Eksternal, Hublu, keluarga saya yang ketiga
dan semua yang telah membentuk saya dan yang telah saya bentuk

semuanya adalah episode terbaik dalam hidup saya…
Maafkan saya yang terlalu banyak salah…

Kenapa Lu Nonhim?

December 11th, 2007 by haniefadrian

Pertanyaan yang hampir selalu gw denger setiap kali kenalan sama anak ITB. Ya, secara himpunan di ITB tuh udah kayak nyawa kampus ini. Kalo dulu nonhim ditindas, sekarang udh ga lagi sih, cuma sayang aja kalo ga ikut himpunan. Mending kalo lu nonhim, ikut unit ato ngapain kek.
Oke-oke, bakal gw jawab. Kenapa gw nonhim, pertama gw ga suka ama ketakutan yang ditebar ke anak-anak ITB (anak baru khususnya) kalo mereka milih nonhim, maka nilai praktikum bisa ancur, ujian apalagi, susah KP, dan susah nyari kerja. Wah, bagus kalo itu masih berlaku kayak jaman Orba. Malah bisa lebih kuat mental nonhim kayak gitu. Tapi intinya mah, kalo orang masuk Islam aja ga boleh atas dasar ketakutan, apalagi sekedar masuk himpunan.
Kedua, soal kekerasan. Gw masih sepakat dengan kekerasan, kalo jelas apa yangmau dilawan, siap demo misalnya, bentrok ama satpam, rektorat, militer, atau sama himpunan lain. Tapi pas kampus ditutup sama militer aja pas JK dateng, kok anak ITB cuma bisa caci maki doang ya. Kompleks sih ceritanya.
Gw juga sepakat dengan kekerasan kalo emang jelas buat wajib militer misalnya. Intinya mah, menguji ketahanan fisik itu harus bisa dipertanggungjawabkan, apalagi kalo cuma sekedar alasan, dulu gw juga digituin, manja banget sih lu. Ya udah, selesai. Patronase klasik.
Ketiga, angkatan gw ga satu visi mau ngapain masuk himpunan. Coba aja lu cari angkatan apa yang berhasil terkader, ga ada, semua individu yang keliatan. Di ITB ini, visi kaderisasinya udah ga jelas. Dan kebanyakan orang memilih mengkader dirinya sendiri, dan tentu saja lemah karena ga ada patron atau teladan yang dia ikuti.
Bagaimanapun, gw pengen terimakasih buat beberapa orang atau pihak yang udah membuat gw tetep peduli sama almamater dan bangsa ini, Galuh dan Caesar PL’01 yang tetep mentorin gw, Dani PL’00 juga sama, Wiyono, Jalu, Febri dkk. yang secara sistematik udah mengkader gw, si Dayenk dan Boulevardnya yang bikin gw ga ketinggalan isu kampus, dan buat Kabinet Ijul yang udah memberi gw kepercayaan buat nonhim (sayur kalo kata HM*) kayak gw. Kira-kira Kabinet ini ada yang sentimen ga ya gara2 gw?

Rasionalitas

December 2nd, 2007 by haniefadrian

Akhir-akhir ini gw nyadar kalo gw mulai ‘menuhankan’ rasio gw. Sering kali gw mempertimbangkan berbagai pilihan hidup gw dalam hal pribadi, pertemanan, akademik dan kemahasiswaan, gw lebih sering mengedepankan akal pikiran daripada hati dan perasaan. Entah karena emang gw akhir-akhir ini lebih sering ngebaca buku-buku yang kayak gitu, atau emang itulah karakter gw yang asli.
Sebagai contoh, cara gw memandang bahwa make sendal pas kuliah itu gapapa, toh yang mikir kan otak gw bukan sendal gw. Tapi gw ga bisa ga sebel sama orang yang pake sendal jepit pas seminar misalnya. Ya iyalah, seminar kan acara resmi.
Atau cara gw ngadepin staf-staf gw yang sumpeh sampe sekarang gw ga begitu ngerti maunya mereka apaan. Seringkali gw menyuruh mereka kayak Nabi bersabda, yang akhirnya ujug-ujug ga dilaksanain juga tuh perintah gw.
Masalahnya orang Indonesia seringkali harus dihadapi dengan dua tools rohaniah ini, ya akal pikiran, ya hati perasaan. Hal ini semakin menambah tebal keyakinan gw kalo emang bangsa ini suka banget mencampuradukkan banyak hal yang biasanya dihadapi oleh satu cara saja.
Cuma aja, ada beberapa penyebab kalo gw bakal mengedepankan perasaan daripada pikiran:
1. Orang yang gw hadepin ternyata ga suka atau kecewa, tapi ga ngomong
2. Orang itu punya masalah keluarga yang berat
3. Orang itu lagi keilangan pegangan
4. Dan ini yang paling repot, khususnya kalo orang itu perempuan, dan gw…..ya tau sama taulah! Kelemahan mendasar seorang lelaki.
Untuk orang yang gw hadepin dengan ganas, satu aja penyebabnya. Dia ga ngerti apa yang dia maksudkan, tapi sok tau ke gw. Bah, gw bakal cecer terus ampe nangis kalo perlu. Satu hal yang gw pelajari tahun 2007 ini, jangan ngomong apa yang lu ga ngerti.