Abis Nonton The Loedroek ITB
Sunday, November 30th, 2008Hari ini saya baru aja nonton maen gedhe The Loedroek ITB, rupanya mereka baru aja ngerayain 25 tahun berdirinya Ludruk, pendirinya, Sujiwo Tejo ama Nirwan Dewanto, dateng tadi, malah Sujiwo Tejo ikut maen gedhe.
Cukup terkejut dengan tema yang diberikan, sebuah kisah yang jarang dibaca oleh generasi saya, Sarip Tambak Oso. Dengan guyonan garing yang saking garingnya bikin kepala saya pusing (karena ketawa mulu), mantep kali maen gedhe hari ini.
Suatu hal yang membuat saya bersyukur bisa kuliah di ITB adalah, ITB punya unit kesenian daerah yang lengkap, seolah tiap suku punya dutanya di ITB melalui Unit Kesenian. Salah satunya ya Ludruk ini. Mereka tetap bisa mempertahankan kekhasan ludruk, mulai dari Dharma Wanita, Remo dance, ampe guyonan sinis politik, sebuah seni yang tidak untuk seni, tapi seni politik, begitu kata mas-mas yang tadi ngidung (bersajak sambil nyanyi).
Tapi karena maen gedhe kali ini spesial, ada satu hal yang membuat saya menarik, betapa orang-orang hari ini sudah muak dengan keterjajahan bangsa kita oleh asing, dan antek2nya yang kebetulan memegang peranan penting di negeri ini. Politiskah? Alah, fuck offlah dengan kekagokan saya selama masih aktif di kemahasiswaan (gerakan mahasiswa adalah gerakan moral, bukan politis).
Dengan menonton ludruk hari ini, saya jadi memahami dan makin meyakini, bahwa cara pandang politik itu kotor adalah cara pandang penguasa orde baru untuk memberangus partisipasi masyarakat agar mereka bisa menggantikan mereka yang udah busuk-busuk itu. Dari dulu, saya mencari-cari istilah politik praktis, ga ada itu istilah politik praktis. Politik ya politik, sebuah cara dan seni memperjuangkan kepentingan publik, baik menjadi politisi, maupun menjadi rakyat jelata.
Eh, si Daoed Joesoef gemblung malah memberikan istilah aneh, politik praktis. Tahun 1978, saat DM diberangus dan dibubarkan, dia mengatakan bahwa kampus bukanlah tempat politik praktis. Dan lihatlah akibatnya sekarang, negara ini kayak ga punya orang lain aja buat jadi presiden, kejebak aja di SBY, Mega, Wiranto, Prabowo, dll. yang jadi aktivis taun 80-an dan 90-an malah ga ada yang berani maju. Yang maju kayak Rizal Ramli dan Fadjroel Rachman malah ga ada yang dukung secara riil.
Dan saat keadaan kampus seperti itulah The Loedroek ITB lahir, 1983. Sebuah gerakan kultural yang hebat. Loedroek bersama GAS, STEMA, PSIK dan lain-lain tetap berusaha mempertahankan ruh kemahasiswaan ITB untuk satu kalimat mantap, TIDAK MEMPERCAYAI DAN TIDAK MENGINGINKAN SOEHARTO KEMBALI MENJADI PRESIDEN RI.
Apa akibatnya? Jelas aja banyak pemain ludruk yang diciduk militer, ada yang balik, ada yang ga balik2, yah begitulah emang resiko jadi aktivis 80-an, makanya watak mereka rata2 keras, galak, maklum besar di jaman yang represif, bikin ini skorsing, bikin itu skorsing.
Sialnya, banyak banget teman2 saya yang ga ngerti dan memahami spirit perlawanan Loedroek ITB, padahal dengan era komersialisasi gila-gilaan kayak sekarang, Loedroek udah mencoba melakukan kritik sosial dengan gaya anak jaman sekarang. Dari mulai meledek KM, Rektorat, Pemerintah, ampe cara ngemeng anak sekarang yang, “cape deh! sumpeh lu!”.
Ya sudahlah ya, secara gua anak jaman sekarang geto loh!