Lalu Berikutnya…
Sengaja saya kasih judul begitu, sama sekali ga sesuai sama gramatika, tapi what the hell…Lalu berikutnya, setelah itu apa? (pleonasme) Tiga tahun sudah saya berkecimpung di kemahasiswaan, dengan segala suka-dukanya, arogansinya, pembelajarannya, dan aksi-aksinya, saya cuma bilang:
Terimakasih kepada semua yang sudah memberi pembelajaran ke saya!
Tetapi…
Ternyata saya belum menghasilkan apa-apa…
Biasanya sih, pembenarannya adalah, kan mahasiswa baru belajar, BULLSHIT! Bung, sekarang ini era kebebasan informasi, akses pengetahuan terbuka lebar, sangat mungkin bagi kita untuk berbuat sesuatu yang nyata di tengah segala tekanan yang terkadang dibuat-buat oleh kita sendiri, entah berupa (sok) kesibukan menjalankan proses pewacanaan di kampus, godaan, maupun kemalasan yang sebenarnya seringkali dibuat oleh saya sendiri.
Mungkin ada yang tersinggung ketika membaca hal ini, tetapi saya tekankan lagi, para pemimpin mahasiswa jaman sekarang, di berbagai level, seringkali sok sibuk! Ada proker inilah, anak-anaknya lagi ujianlah, ada masalah pribadilah, ada masalah pacarnyalah, dan segala alasan lainnya. Tapi setelah dicross-check, ternyata seringkali hal-hal tersebut, bisa diselesaikan dengan cepat oleh si Pemimpin Mahasiswa tersebut, tentunya dengan keseriusan juga.
Oleh karena itu, bagi siapapun yang membaca ini, jangan pernah menyalahkan segala isme-isme anak muda jaman sekarang (apatisme, hedonisme, pragmatisme, dll.) Semua itu terjadi karena si pemimpin mahasiswa juga berkelakuan seperti itu, apatis, hedon, pragmatis, dan is-is lainnya. Nah, bingung kan…
Coba, ajak para pemimpin mahasiswa sekarang untuk benar-benar mengkaji persoalan kemahasiswaan jaman sekarang, mana ada yang benar-benar menganalisa kondisi dengan pisau analisa yang dapat dipertanggungjawabkan. Atau mau berpolitik mahasiswa, mana ada yang benar-benar melakukan analisa kondisi yang dapat dipertanggungjawabkan?
Di era seperti ini, para pemimpin mahasiswa masih memakai kacamata kuda untuk melihat kondisi lingkungannya, baik rakyat kampusnya, maupun rakyat di luar kampus. Dengan kelakuan pemimpin seperti itu, tentu saja si mahasiswa memakai pola pikir yang sama, hehehe…
Tapi kok jadi ga nyambung, tulisan ini kan bukan buat melabrak para pemimpin mahasiswa, ik kena donk…
Jadi kehidupan saya berikutnya apa ya??? Bingung, hmmh, kemahasiswaan itu memang surga, begitu kata Staf Danlap OSKM 2003, anak HIMAFI’01. Kalo udah masa-masa kehilangan orientasi kayak gini, udah susah tuh…
March 29th, 2008 at 8:11 am
gejala post power syndrome..
hmmm… berat…
March 29th, 2008 at 8:16 am
sekali lagi..
gejala post power syndrome..
April 2nd, 2008 at 9:22 am
Yah, namanya juga udah tua!