Dialog Kecil Dua Jenderal

December 18th, 2008 by haniefadrian

Letjen Browning, Komandan Korps Lintas Udara I Inggris, Mayjen Urquhart, Komandan Divisi Linud 1 Inggris, Mayjen Taylor, Komandan Divisi Linud 101 AS, dan Brigjen Gavin, Komandan Divisi Linud 82 AS, semua sedang berdebat tentang bagaimana menyukseskan operasi Market Garden, sebuah operasi gabungan Linud dan pasukan Tank, menguasai empat jembatan yang menguasai kota-kota Eindhoven, Nijmegen, dan Arnhem.

Memang perdebatan itu terjadi akibat taruhan besar operasi itu, menerjunkan 30.000 pasukan linud untuk menguasai garis belakang Jerman, lalu menguasai daerah perindustrian Ruhr di sungai Rhein, masuk ke jantung Jerman.

Hanya ada satu Jenderal yang terlihat diam saja, menyaksikan perdebatan 4 Jenderal itu. Mayjen Stanislaw Sosabowski, komandan Brigade Linud 1 Polandia, memikirkan nasib 3000 anak buahnya yang mungkin saja terbunuh. Letjen Browning bertanya, “Ada komentar, Jenderal Sosabowski?”

Sambil menatap Letjen Browning, Mayjen Sosabowski berkata, “Jenderal, kami ini orang Polandia, terkenal sebagai bangsa yang cerdas, yang menjadikan kami minoritas di sini, dan kaum minoritas cenderung nyaman untuk diam…”

Kesimpulannya, kalau anda merasa minoritas, lebih baik diam aja deh, jangan banyak ngemeng, wekekekekekekek…

*Sayang itu cuma di film, tapi kata-kata itu nendang*

Abis Nonton The Loedroek ITB

November 30th, 2008 by haniefadrian

Hari ini saya baru aja nonton maen gedhe The Loedroek ITB, rupanya mereka baru aja ngerayain 25 tahun berdirinya Ludruk, pendirinya, Sujiwo Tejo ama Nirwan Dewanto, dateng tadi, malah Sujiwo Tejo ikut maen gedhe.

Cukup terkejut dengan tema yang diberikan, sebuah kisah yang jarang dibaca oleh generasi saya, Sarip Tambak Oso. Dengan guyonan garing yang saking garingnya bikin kepala saya pusing (karena ketawa mulu), mantep kali maen gedhe hari ini.

Suatu hal yang membuat saya bersyukur bisa kuliah di ITB adalah, ITB punya unit kesenian daerah yang lengkap, seolah tiap suku punya dutanya di ITB melalui Unit Kesenian. Salah satunya ya Ludruk ini. Mereka tetap bisa mempertahankan kekhasan ludruk, mulai dari Dharma Wanita, Remo dance, ampe guyonan sinis politik, sebuah seni yang tidak untuk seni, tapi seni politik, begitu kata mas-mas yang tadi ngidung (bersajak sambil nyanyi).

Tapi karena maen gedhe kali ini spesial, ada satu hal yang membuat saya menarik, betapa orang-orang hari ini sudah muak dengan keterjajahan bangsa kita oleh asing, dan antek2nya yang kebetulan memegang peranan penting di negeri ini. Politiskah? Alah, fuck offlah dengan kekagokan saya selama masih aktif di kemahasiswaan (gerakan mahasiswa adalah gerakan moral, bukan politis).

Dengan menonton ludruk hari ini, saya jadi memahami dan makin meyakini, bahwa cara pandang politik itu kotor adalah cara pandang penguasa orde baru untuk memberangus partisipasi masyarakat agar mereka bisa menggantikan mereka yang udah busuk-busuk itu. Dari dulu, saya mencari-cari istilah politik praktis, ga ada itu istilah politik praktis. Politik ya politik, sebuah cara dan seni memperjuangkan kepentingan publik, baik menjadi politisi, maupun menjadi rakyat jelata.

Eh, si Daoed Joesoef gemblung malah memberikan istilah aneh, politik praktis. Tahun 1978, saat DM diberangus dan dibubarkan, dia mengatakan bahwa kampus bukanlah tempat politik praktis. Dan lihatlah akibatnya sekarang, negara ini kayak ga punya orang lain aja buat jadi presiden, kejebak aja di SBY, Mega, Wiranto, Prabowo, dll. yang jadi aktivis taun 80-an dan 90-an malah ga ada yang berani maju. Yang maju kayak Rizal Ramli dan Fadjroel Rachman malah ga ada yang dukung secara riil.

Dan saat keadaan kampus seperti itulah The Loedroek ITB lahir, 1983. Sebuah gerakan kultural yang hebat. Loedroek bersama GAS, STEMA, PSIK dan lain-lain tetap berusaha mempertahankan ruh kemahasiswaan ITB untuk satu kalimat mantap, TIDAK MEMPERCAYAI DAN TIDAK MENGINGINKAN SOEHARTO KEMBALI MENJADI PRESIDEN RI.

Apa akibatnya? Jelas aja banyak pemain ludruk yang diciduk militer, ada yang balik, ada yang ga balik2, yah begitulah emang resiko jadi aktivis 80-an, makanya watak mereka rata2 keras, galak, maklum besar di jaman yang represif, bikin ini skorsing, bikin itu skorsing.

Sialnya, banyak banget teman2 saya yang ga ngerti dan memahami spirit perlawanan Loedroek ITB, padahal dengan era komersialisasi gila-gilaan kayak sekarang, Loedroek udah mencoba melakukan kritik sosial dengan gaya anak jaman sekarang. Dari mulai meledek KM, Rektorat, Pemerintah, ampe cara ngemeng anak sekarang yang, “cape deh! sumpeh lu!”.

Ya sudahlah ya, secara gua anak jaman sekarang geto loh!

Sumpah Pemuda, Mati Muda

November 3rd, 2008 by haniefadrian

Sumpah Pemuda, sebuah ritual tahunan yang kebetulan tahun ini mendapatkan angka bagus, 80. Ntah kenapa, ritual ini saya lewati dengan kegelisahan. Di satu sisi dikatakan bahwa pemuda adalah agen perubahan bangsa, tapi di sisi lain, sinisme masyarakat mengenai kaum mudanya seolah menafikan harapan bahwa anak muda adalah garda terdepan perubahan mereka…

Kasian jadi anak muda hari ini. Sumpah pemuda hari ini tuh, “Sumpeh Lu!”. Bukan retorika indah macam tahun 1928 dulu, *itu mah dulu*.

Dan tiba generasi kami, generasi muda milenium, generasi muda dari pendidikan ala Soeharto yang membodohkan, generasi muda yang luka karena dilukai oleh orang tua sendiri, supaya kami tidak bisa memimpin bangsa ini kedepannya.

Katanya lebih baik menyalakan lilin daripada memaki kegelapan, sayangnya banyak lilin yang dimatikan oleh angin keangkuhan.

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, kemudian dilahirkan tetapi mati muda, dan yang paling menyakitkan adalah menjadi tua, berbahagialan mereka yang mati muda.

Mengenang 80 Tahun Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2008

dan mengenang kakak kami Faisal Riza, 24 Mei 1979 - 31 Oktober 2008

Viva New Wave

October 30th, 2008 by haniefadrian

Tiap generasi juga kayak gini, pasti anak muda merasa lebih tau zamannya daripada generasi tua, jadinya ga ada dialog deh. Tapi ga papa, New Wave emang keren…

The Police - Born in the 50’s

We were born
Born in the fifties

My mother cried
When President Kennedy died
She said it was the Communists
But I knew better

Would they drop the bomb on us
While we made love on the beach
We were the class they couldn’t teach
‘Cos we knew better

We were born
Born in the fifties

They screamed
When The Beatles sang
And they laughed when the king fell down the stars
O they should’ve known better

O we hated our aunt
Then we messed in our pants
Then we lost our faith and prayed to the TV
O we should’ve known better

We were born
Born in the fifties

We freeze like statues on the pages of history
Living was never like this when we took all those GCE’s
O you opened the door for us
And then you turned to dust
You don’t understand us
So don’t reprimand us
We’re taking the future
We don’t need no teacher

We were born
Born in the fifties

The Police - Can’t Stand Losing You

I’ve called you so many times today
And I guess it’s all true what your girlfriends say
That you don’t ever want to see me again
And your brother’s gonna kill me and he’s six feet ten
I guess you’d call it cowardice
But I’m not prepared to go on like this

I can’t, I can’t
I can’t stand losing
I can’t stand losing you

I see you’ve sent my letters back
And my LP records and they’re all scratched
I can’t see the point in another day
When nobody listens to a word I say
You can call it lack of confidence
But to carry on living doesn’t make no sense

I can’t, I can’t
I can’t stand losing

I guess this is our last goodbye
And you don’t care so I won’t cry
But you’ll be sorry when I’m dead
And all this guilt will be on your head
I guess you’d call it suicide
But I’m too full to swallow my pride

I can’t, I can’t
I can’t stand losing
I can’t stand losing you

The Police - Roxanne

Roxanne
You don’t have to put on the red light
Those days are over
You don’t have to sell your body to the night

Roxanne
You don’t have to wear that dress tonight
Walk the streets for money
You don’t care if it’s wrong or if it’s right

Roxanne
You don’t have to put on the red light

I loved you since I knew you
I wouldn’t talk down to you
I have to tell you just how I feel
I won’t share you with another boy
I know my mind is made up
So put away your make up
Told you once I won’t tell you again
It’s a bad way

Roxanne
You don’t have to put on the red light
Roxanne
You don’t have to put on the red light

Krisis oh Krisis

September 27th, 2008 by haniefadrian

Waktu tahun 98, Indonesia, Malaysia, Korea, Thailand, Filipina kena krisis, eh AS dan Eropa ga kena, bule2 kompeni itu pada asyik tamasya di Indonesia…

10 Tahun kemudian…

AS dan Eropa kena krisis, eh kita juga kena, artinya adalah

Jika Indonesia krisis, maka AS tidak terkena krisis

Jika AS krisis, maka Indonesia terkena krisis

Kesimpulannya adalah:

Krisis di AS berimbas pada krisis di Indonesia, alias perekonomian kita masih tergantung dengan AS, karena eh karena, negara-negara lain malah ‘menikmati’ krisis ekonomi ini, kayak Rusia, Cina, India, Malaysia, Thailand (cuma krisis politik, ntar lagi juga selesai, wong kerjaan militernya kudeta melulu).

Apakah ini proses keruntuhan Pax Americana, menjadi Pox Americana alias Pageblug Amerika…

Apakah ini awal dari era globalisasi yang lebih adil, karena ternyata pemain pasar global tidak tunggal lagi ternyata…

Apakah kemudian Eropa akan melepaskan ketergantungan ekonominya pada AS, dan menjadi kutub ekonomi lagi…

Kalau kebanyakan kutub ekonomi, akankah tiap kutub memperkuat militernya untuk menjaga kepentingan ekonomi-politiknya, ingat kata Clausewitz, perang adalah kelanjutan politik dalam bentuk lain.

Kalau AS, Eropa, Rusia, Cina, India memperkuat militernya dan sama-sama mau jadi polisi dunia, pertanyaannya adalah:

SIAPAKAH JAKSANYA, PENASEHAT HUKUMNYA, DAN TERUTAMA HAKIMNYA?

Siapakah hakim dunia di era globalisasi dan perdagangan bebas masa depan?

Bagaimana kalau, Indonesia saja….

Hehehehehehehehehehe…..

…behind every great fortune, there is a crime… (Mario Puzo, Godfather)

Akhirnya Memang Kita Harus Sabar

September 17th, 2008 by haniefadrian

Ya….

Memang kita harus bersabar untuk menuai hasil kerja yang mungkin aja memakan waktu lama sekali, misalnya 3 tahun. Walaupun perbedaannya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan yang dulu, tapi mau ga mau kerjaan ini harus kita hargai.

Toh ini kan bukan sekedar membalikkan telapak tangan. Kesadaran ga bisa dibentuk dalam hitungan detik, Bung! Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan dan bertahun.

Be a man, not it!

Tenang, tenaga musti dihemat. Masih ada kerjaan lain yang menunggu, karena kita hari ini adalah dunia 30 tahun ke depan. Begitu kata poster gerakan mahasiswa ITB 77/78.

Makin lama, makin cinta almamaterku ini!

ITB! ITB! ITB!

Kalau Cinta Sudah Bicara

July 7th, 2008 by haniefadrian

Kata temen gua, kalau cinta sudah bicara, tai kucing pun terasa coklat…

Mmmh, gua ga sepakat, kayaknya jadi terasa marshmellow deh daripada coklat, abis tai kucing kan warnanya coklat, masak udah dianggep coklat (manis) masih dianggep berwarna coklat, ntar masih jadi tai kucing namanya…

Wahaha, ga penting!

Pidato Bung Tomo, 10 November 1945

June 6th, 2008 by haniefadrian

Yang Pertama:

Hey Britain, as long as the wild ox, the youth of Indonesia, still have
red blood that can make a white cloth red and white… as long as that
we will not surrender. Friends, fellow fighters… especially the youth
of Indonesia, we will fight on, will will expel the colonialists from
our Indonesian land that we love… Long have we suffered, been
exploited, trampled on. Now is the time for us to seize our
independence. Our slogan: FREEDOM OR DEATH. GOD IS GREAT… GOD IS
GREAT… GOD IS GREAT.. FREEDOM!

Yang kedua:

Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!

Baca Semua!!!!

June 3rd, 2008 by haniefadrian

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
Oleh: W.S. Rendra

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.

Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “Kami ada maksud baik”
Dan kita bertanya:”Maksud baik untuk siapa?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya:
“Maksud baik saudara untuk siapa?
Saudara berdiri di pihak yang mana?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya:
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa?”

Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.

Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana!

Ngopi dari blog orang

April 30th, 2008 by haniefadrian

         

         

         

       

       

         

       

       

         

       

       

         
Keberpihakan Intelektual Organik
            

 

 
Oleh: Salman Al Farisi
            

 

            

         
ISTILAH intelektual organik merupakan sebutan bagi intelektual-akademisi yang
mendedikasikan proses pembelajarannya sebagai upaya membuka ruang atas
terjadinya gap antara teori dan praktik. Bagi mereka, tidak cukup peran
intelektual jika hanya diapresiasikan lewat buku semata. Sebaliknya, lebih dari
itu, perannya bagi pemberdayaan masyarakat adalah satu kewajiban yang mutlak.

Dalam studi civil society, beberapa komponen masyarakat yang dapat dikategorikan
sebagai aktor gerakan masyarakat sipil (GMS) di antaranya adalah cendekiawan,
LSM, pers/media, mahasiswa, dan organisasi masyarakat sipil (non-interest
groups).

Dalam struktur sosial, meski belum betul-betul membumi, komponen-komponen itu
sering disebut intelektual organik.

Reformasi merupakan satu fase yang sedikit banyak lahir dari upaya intelektual
organik. Berbagai gerakan perlawanan terhadap keberadaan negara (state) yang
eksploitatif mereka lakukan.

Misalnya, gerakan penyadaran HAM, jender, penyelamatan lingkungan, dan
pemberantasan korupsi. Karena itu, tidak mengherankan jika perlawanan itu selalu
berakhir dengan kenyataan pahit, seperti mulai dengan pembredelan SIUPP
pers/media sampai dengan penculikan dan pembunuhan terhadap aktivis HAM.

"Frozen resistance"

Memasuki era reformasi yang mulai compang-camping, gerakan intelektual organik
mulai menunjukkan titik beku meski sebenarnya mereka enggan untuk muncul di
permukaan. Namun, kini berbagai proses demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat
sipil mulai memperlihatkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan.

Bekunya gerakan itu bisa dilihat dari sisi kemasan isu dan dana. Beberapa isu
yang diangkat dalam hampir bisa dipastikan semuanya merupakan isu yang sudah di
set-up di negara maju (Core State). Dengan demikian, isu yang diwacanakan lebih
bersifat titipan meski ada juga yang bergerak dengan isu yang dikemas secara
mandiri.

Sebagaimana diketahui, beberapa aktivitas intelektual organik dalam GMS tidak
lepas dari masalah pendanaan. Secara institusional dan individual, keberadaan
GMS, diakui atau tidak, sangat bergantung pada kucuran dana yang diperoleh dari
funding agencies.

Akibatnya, beberapa isu yang akan diangkat intelektual organik setidaknya harus
menyesuaikan dulu dengan isu atau program yang dimiliki oleh funding agencies.

Karena itu, wajar jika beberapa isu yang diangkat lebih banyak mencerminkan isu
global yang seringkali tidak memiliki ikatan emosional dengan masyarakat lokal
yang diperjuangkannya.

Dengan isu global itu, intelektual organik-dengan tanpa sadar-sebenarnya lebih
banyak mengusung wacana yang dihadapi dan terjadi di negara-negara maju
ketimbang masalah yang sebenarnya dihadapi oleh masyarakat sipil di negara
berkembang (periphery).

Kurang waspadanya intelektual organik dalam mengangkat isu itu akhirnya ikut
mempengaruhi struktur mental dan pengetahuan mereka. Dalam struktur mentalnya,
mereka seringkali menempatkan dirinya sebagai Ratu Adil yang jika tanpa dirinya,
persoalan itu tidak akan selesai.

Bahkan, dengan keyakinan yang amat tinggi mereka menganggap masyarakat sebagai
obyek, sehingga masyarakat perlu disadarkan dari kelelapannya.

Dengan kondisi struktur mental dan pengetahuan seperti itu, intelektual organik
seringkali bersikap dan berperilaku lumpen borjuis, yang dengan gaya hidupnya
mereka sengaja mengidealkan diri mereka sebagai kelas trans-nasional, yang
justeru sebenarnya malah semakin menjauhkan diri mereka dari kenyataan.

Dengan kondisi mental yang cenderung elitis, lugu dalam menangkap isu dan rendah
dalam tingkat kesejahteraan, tidak salah jika sebagian masyarakat ada yang
menganggap perjuangan mereka tidak lebih sebagai bentuk kepanjangan tangan dari
sistem besar, yaitu kapitalisme global.

Anggapan ini terutama dapat kita lihat dari kecenderungan intelektual organik
yang memiliki ?cita-cita besar" untuk masuk media atau menjadikan media sebagai
faktor utama dalam sosialisasi diri dan statusnya dengan cara menumpang hidup
dari wacana yang diusungnya.

Wawancara dan advokasi mereka tak ubahnya selebrasi dari panggung besar bernama
demokratisasi. Intinya, dengan masuk media, kelas terdidik menganggap, tugasnya
sebagai agen pencerahan telah selesai.

Apa yang kita lihat dalam struktur mental dan pengetahuan intelektual organik
dalam GMS akhirnya menyakinkan kita tentang struktur berpikir kelas terdidik
yang didominasi nalar negara yang bertendensi menguasai nalar masyarakat.

Dengan model nalar negara itu, intelektual organik tidak saja melanggengkan
kehendak untuk benar (will to truth), tetapi juga telah menggeser dirinya
berkehendak untuk berkuasa (will to power).

Bergesernya peran mereka-dari agen pencerahan menjadi pelanggeng
hegemoni-terjadi seiring dengan semakin kuatnya budaya patron di kalangan kelas
terdidik yang tidak lain untuk kepentingan eksistensi diri, status dan akumulasi
modal. Disinilah, doktrin knowledge is power benar-benar dipahami dan dijalankan
dengan pragmatis dan ironis.

Banyaknya intelektual organik yang kini banyak menjadi dewan pakar di
partai-partai politik sebenarnya merupakan satu langkah mulia, yaitu untuk
memberi warna baru dalam perpolitikan.

Tetapi fakta di lapangan sering berbicara lain. Perpindahan intelektual organik
dari GMS (civil society) ke partai (political society), sebaliknya, lebih
cenderung menjadi penyokong dari setiap kebijakan politisi urakan. Mereka oleh
Noam chomsky disebut dengan secular priesthood, yaitu intelektual yang tugasnya
menyiapkan dasar legitimasi kekuasaan dan kebijakan partai-partai politik.

Karena itu, adalah suatu hal yang wajar jika kini distribusi pengetahuan dan
kontribusi intelektual organik terhadap penyadaran dan penguatan GMS
dipertanyakan.

Terjadinya disorientasi kebangkitan kelas terdidik di tengah kondisi kehidupan
negara dan masyarakat yang serba ambigu ini akhirnya akan membuktikan kata-kata
Edward Said yang menyebut mereka sebagai ?imperialis terdidik" baik secara
langsung maupun tidak langsung.

Ibarat marsose di zaman kolonial, intelektual organik tidak saja melanggengkan
kolonialisme dari Negara Pertama terhadap Negara Ketiga, tetapi juga telah
menciptakan kolonialisme dan imprealisme pikiran, yaitu dari kelas uneducated
people menjadi well informed people. Well informed people disini bukan berarti
mereka saja yang bisa sekolah ke luar negeri, tapi bisa juga intelektual dalam
negeri yang sering memberi legitimasi atas terjadinya pembekuan kebangkitan
kelas terdidik, seperti mencari patron.

Demikian pula dengan uneducated people. Sebutan ini bukan hanya untuk mereka
yang tidak mendapatkan akses dalam pendidikan, tetapi juga termasuk mereka yang
secara tidak sadar telah terkooptasi struktur mental dan pengetahuannya oleh
struktur negara, sehingga tidak ada lagi kemampuan dan keinginan untuk bergerak
secara mandiri.

Karena itu, kaum intelektual organik harus menyadari betul bahwa berdiri di
posisi ini bukan berarti kita bebas nilai dan netral, tetapi adakalanya kita
bisa terjerumus secara tidak sadar ke dalam sistem yang eksploitatif dan
manipulatif.

Lalu, sudahkah kita merenung apa yang telah kita pikirkan dan lakukan kemarin?

Salman Al Farisi Technical Assistant LEMLITBANG PonPes Nazhatut Thullab Sampang;
Jaringan Komisi (JARKOM)Fatwa Surabaya

          URL Source: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0404/23/opini/986323.htm